*Foto yang ditampilkan di halaman ini bukan berasal dari penulis. Atas permintaan penulis, identitas dan detail terkait penulis disamarkan.*
Aku selalu berpikir kalau persiapan pernikahan itu bakal seru dari milih venue, fitting baju, nyusun playlist lagu, semuanya kedengeran menyenangkan.
Tapi begitu aku benar-benar mulai, rasanya kayak rollercoaster. Ada hari-hari di mana aku super excited, tapi ada juga hari di mana aku overwhelmed banget sama pilihan yang rasanya nggak ada habisnya.
Drama pertama: cari venue

Aku dan tunanganku (yang sekarang sudah jadi paksu), sebut aja Andi, sepakat buat ngadain wedding di Jakarta di tahun 2024. Dari awal, kita pengen acara intimate, nggak terlalu besar, tapi tetap berkesan. Maksimal 200 tamu, biar masih bisa ngobrol dan menikmati suasana.
Begitu mulai cari venue, mulai deh tertampar realita. Aku selalu bayangin venue outdoor dengan banyak greenery, tapi Jakarta panas banget, dan hujan sering nggak bisa diprediksi. Akhirnya, kita cari opsi semi-outdoor yang tetap nyaman kalau hujan turun. Dan juga, biar tamu pada nyaman kalau hawanya lagi panas-panasnya.
Drama kedua: daftar tamu & undangan

Bagian ini ternyata lebih ribet dari yang aku kira. Awalnya, aku pikir gampang aja… undang keluarga, sahabat, dan temen kantor. Tapi orang tua punya list mereka sendiri. Ada saudara jauh, kenalan keluarga, dan teman kerja yang katanya “harus diundang biar sopan”. Aku cuma bisa senyum.
Jadilah aku dan Andi berkali-kali revisi daftar tamu. Dari 150, tiba-tiba jadi 250. Aku stres banget karena makin banyak tamu, makin besar juga biaya katering. Kita akhirnya ngobrol serius sama keluarga, jelasin konsep intimate wedding yang kita mau, dan negosiasi biar jumlah tamu tetap terkendali.
Di sini juga akhirnya aku buka-bukaan ngomong sama Andi tentang ekspektasi kita berdua. Orang tua aku yang banyak mau, tapi Andi dengan sabar mau rangkul aku. Andi juga kasih tau aku bahwa acara ini nanti akan menjadi memori besar kita berdua, makanya kita harus bisa komunikasiin dengan baik juga ke orang tua kita.
………..terutama aku sih yang harus bisa berani membicarakan masalah ini ke orang tua aku, yang memang tidak mudah karena aku terbiasa nurut sama kata-kata mereka. Buat aku, ngadain intimate wedding dan nggak ngikutin kemauan mereka untuk undang orang-orang banyak, rasanya tuh aku kayak.. sangaaat bersalah banget sebenernya sama mereka. Tapi di sisi lain, aku juga nggak mau menghabiskan hari spesial aku sama Andi nanti bersama orang-orang yang aku gak kenal sama sekali.
Tapi long story short, akhirnya aku beraniin diri aku untuk ngomong ke orang tua aku. Aku cerita sampai nangis-nangis alasan aku kenapa mau intimate wedding. Aku juga dengerin sudut pandang dari mereka. Trus yaudah rasanya jadi lebih lega dan lebih santai urusin jumlah undangan. Akhirnya aku nggak gitu ngurusin lagi, tapi jumlah tamunya bisa sesuai ekspektasi aku dan Andi di awal.
Ending dari seluruh drama ini

Di tengah semua checklist yang rasanya nggak habis-habis, ada satu momen yang bikin aku terharu.
Aku inget banget, di sore pas aku lagi pusing tentang jumlah undangan, kita duduk berdua di satu kafe di perumahan gitu sambil minum es kopi gula aren. Andi bilang sesuatu yang bikin aku nangis (mungkin aku emang gampang nangis ya): “Mau seberapa ribet pun persiapan ini, kamu inget-inget terus aja ya… aku mau nikahnya sama kamu, kamu juga mau nikahnya sama aku kan? *sambil senyum* jadi kita jalanin aja semuanya ini bareng-bareng ya”.
Rasanya semua stres dan capek langsung luntur. Rasanya kayak aku gak sendirian. Dulu beberapa temen ada yang cerita kalau calon mereka nggak gitu urusin wedding… tapi aku merasa cowo yang bantuin urus wedding kayak Andi ini bener-bener green forest sih. Bersyukur banget gak ditinggal repot sendirian.
Ending benerannyaa,
Buat kamu yang lagi di fase persiapan wedding, aku pahaaaaam banget rasanya. Kadang capek, kadang excited, kadang overwhelmed lihat angka di spreadsheet budget.
Kalau ada satu hal yang aku pelajari dari wedding planning ini, komunikasi itu pentinggg banget. Sama pasangan, ortu, dan keluarga, serta vendor. Harus kompak dan terbuka sama pasangan. Pasangan yang baik pastinya akan bantu dengerin dan kasih perhatian.
Semangat-semangat ya brides to be!
Sincerely,
Bride 2024
![[True Story] Planning Wedding di Tahun 2024](https://bridepalette.id/wp-content/uploads/2025/01/pexels-photo-3835638.jpeg)
Leave a Reply