Salam kenal ya. Namaku Renata, yang juga merupakan salah satu Minpal (mimin Bridepalette) di community Bridepalette ini.
Aku merupakan Bride Januari 2025. Aku dan pasangan memulai perjalanan wedding planning kami dari pertengahan tahun 2023.
Aku mau sharing sedikit mengenai pengalamanku di waktu wedding planning kemarin, di mana aku kehilangan 2 sosok yang sangat aku sayangi dan hormati— berurutan, 1 bulan dan 1 hari sebelum wedding day.
Aku juga akan sharing sedikit bagaimana aku, pasangan, dan keluarga menghadapi suasana duka ini, namun tetap menjalani semuanya dengan sepenuh hati.
Cerita tentang 2 sosok ini
Aku mempunyai 2 grandparents (1 kakek dari pihak ibu, 1 nenek dari pihak ayah) yang diberkati dengan umur yang sangat panjang. Namun memang selayaknya kondisi opa oma pada umumnya dengan umur yang sudah banyak, keadaan mereka tentu sering naik turun.

Nenek merupakan sosok yang sangat dekat denganku dan sangat aku sayangi. Walaupun udah sakit-sakitan dan di waktu-waktu terakhir udah susah untuk ngomong, tapi tetep aja mau ngeladenin candaan cucunya yang sering ngawur ini.
Nenek mempunyai sahabat dekat di kota asalnya dulu, Solo, yang sudah pindah ke Jakarta. Ternyata, cucu dari teman kursus masaknya ini menjadi pasanganku (yang juga temanku waktu SD). Tentu bibit bebet bobot jadi bukan masalah karena ternyata keluarga kami udah kenal at least 4 generasi 😛
Mungkin nenek excited ya karena cucunya akan menikah dengan cucu dari temen deketnya. Walau sakit-sakit, mata nenek selalu bersinar & tiba-tiba jadi gak mengerang kesakitan ketika aku kasih liat render foto dekor resepsi, wedding gown yang masih on progress, invitation online, dan ketika beliau memilih kain untuk gaun pesta yang akan beliau pakai.
Namun kita memang sebagai manusia hanya bisa berencana ya. Hampir sebulan sebelum wedding, lima hari sebelum Hari Natal, nenek sudah berpulang ke surga.

Kakek merupakan sosok yang aku hormati (dan agak aku takuti waktu kecil wkwk). Kakek merupakan pribadi yang keras, tapi aku tau beliau memiliki hati yang lembut di balik tampilan luarnya yang agak-agak otoriter. Beliau sangat sayang pada cucu dan cicitnya. Ketika ada acara keluarga, cicitnya pasti diciumin satu-satu.
Kakek juga sebenarnya bisa dibilang cukup fit untuk umurnya yang sudah 90an lebih. Kakek masih suka makan sushi dan hotpot ketika kita lunch dan dinner bareng. Setiap dikasih tau bahwa aku akan married beberapa bulan/minggu/hari lagi, pasti selalu disenyumin & diacungi jempol sama kakek.
Aku & keluarga pun saat itu lebih fokus merawat nenek yang memang sudah terdiagnosa mengidap penyakit kritis.
Tapi kita memang gak bisa memprediksi keadaan ya, kondisi bisa naik turun di waktu yang begitu cepat. 2 hari sebelum wedding day, pada tengah malam; kami sekeluarga dan tanteku harus mengantar kakek ke IGD.
Satu hari sebelum wedding day, kakek harus masuk ICU pada siang harinya karena kondisi yang semakin memburuk. Pada pukul 18:00, jam besuk ICU dimulai. Aku & mama sempat memohon doa restu dari kakek & mendoakan kakek; ternyata di saat itulah juga kita bertemu dan menyentuh kakek untuk yang terakhir kalinya.
Kakek berpulang sekitar satu setengah jam setelah jam besuk dibuka. Lima hari sebelum Hari Imlek. Semalam sebelum hari wedding kami.
–
Jadi apa sih sebenernya yang bisa aku petik & bagikan dari pengalaman ini? 🙋♀️
–
I. Kita hanya bisa berencana

Kita sebagai manusia bisa berencana, melakukan, dan mengusahakan yang terbaik. Tapi banyak faktor dan hal lain yang memang di luar kendali kita. Jadi yang bisa kita lakukan adalah berserah. Focus on what we can control, let go of things beyond our control.
–
Di awal wedding planning, aku dan pasangan udah berencana mau melakukan pemberkatan di Gereja Katedral. Lebih dari satu tahun sebelumnya, kita udah hubungi Romo yang bertugas di sana dan sudah dapat konfirmasi bahwa semuanya aman. Namun, karena satu dan lain hal, akhirnya kita gak dapet tempat di Gereja Katedral. Akhirnya, pemberkatan kita jadinya di salah satu gereja di Jakarta Barat.
Kesel gak karena gak dapet Katedral? Jujur aja sempet kesel dan kecewa, karena kita merasa udah sangaaaat well-prepared dan rencanain dari jauh-jauh hari.
Tapi ternyata, pemberkatan di Jakarta Barat udah jadi jalan yang paling baik buat kita. Karena pas hari H, saudara-saudara dari pihak mama (yang memang kebanyakan tinggal di Jakbar) jadi pada bisa hadir, walaupun mereka harus datang ke rumah duka juga semalam sebelum dan setelah misa pemberkatan.
Gimana coba kalau kita tetep di Katedral? Saudara-saudara dari pihak mama bakal capek banget harus ke Jakarta Pusat pagi-pagi untuk misa, padahal semaleman mereka baru dari rumah duka di Jakarta Utara & harus balik lagi ke Jakarta Utara setelah misa pemberkatan selesai.
–
Intinya, kita pastinya akan selalu berencana dan mengusahakan yang terbaik. Tapi kalau realita tetep gak sejalan dengan apa yang kita sudah rencanain, yaudah kita pasrahkan dan jalani aja— kita yakini aja kalau memang itulah jalan yang terbaik buat kita.
“Do your best and let God do the rest”.
II. Semua baik

Situasi duka sebelum hari besar bisa bikin pikiran jadi gak jelas dan kemana-mana.
Dua hari sebelum wedding day, aku & mama nangis bareng di mobil sambil otw ke rumah sakit. Kita bilang, gaenak banget ya rasanya kita mau pesta-pesta sementara kakek sakit & gak sadarkan diri di rumah sakit. Terus gimana kalau misalnya kakek berpulang pas di hari wedding nanti? Gimana dengan saudara-saudara yang dateng ke pesta dan gak bisa nemenin kakek di saat-saat terakhir kakek?
Waktu itu rasanya sedih & pusing yang sampai mual.
The night before the wedding— masih nangis? Masih dong 🥴
Aku nangis heboh ke pasangan & 2 teman dekatku setelah tau kabar berpulangnya kakek, “Kenapa ya kejadian gini bisa terus ada aja, 1 bulan dan 1 hari sebelum wedding, apa mungkin ini tanda-tanda yang kurang baik ya buat kita nantinya?”
Pasanganku dengan sabar bilang bahwa Tuhan gak mungkin kasih kejadian ini ke kita kalau kita gak bisa laluin ini. Karena itu, pasti kita bisa melalui semua ini bersama & menjadi lebih kuat.
Temanku bilang, “Gak lah Ren, kakek nenek lo kan juga udah banyak umurnya. Bonusnya udah dikasih banyak. Gak ada hubungannya.”
Terus aku juga teringat. Di sore harinya, waktu nungguin jam besuk ICU, sepupuku yang diberkati dengan talenta bercerita, “Wah Engkong (panggilan kami ke kakek) udah hepi ini bisa jalan-jalan, gak terbatas sama sakitnya lagi— tapi gatau deh jadinya mau balik lagi apa enggak.”
–
Jadi yang bisa ditarik dari semuanya ini dan kata-kata penyemangat yang sudah di-italic di atas adalahhh apapun yang terjadi pasti adalah yang terbaik.
–
Kakek dan nenek, kalaupun datang, belum tentu akan merasa nyaman dan bisa menikmati keseluruhan acara sambil sakit-sakitan. Malah timingnya pas, kakek sudah keluar dari ICU di malam sebelum hari H. Jadi, kakek dan nenek kalau mau mampir ke acara, malah jadi bisa dateng dan dapet best view deh.
Kadang ego dan kedagingan kita yang membuat kita bersedih dan tidak rela orang-orang tersayang kita meninggalkan kita. Padahal, kalaupun mereka kita paksakan untuk tetap survive dengan segala macam cara, belum tentu mereka akan bebas dari kesakitan dan merasakan kebahagiaan. Jangan sampai kemelekatan kita kepada mereka menjadi penyebab kesakitan & penderitaan mereka.
Kadang yang perlu kita lakukan hanya sekadar membisikkan,
“Semangat ya, kita selalu mendoakan yang terbaik untuk kakek/nenek. Apapun yang terjadi pasti adalah yang terbaik. Kakek/nenek baik-baik ya, gausah pikirin kita dan hal-hal lainnya lagi. Kita juga akan terus baik-baik aja. Aku bersyukur diberikan kesempatan untuk menjadi cucu kakek/nenek di kehidupan ini.”
III. Ini tetap hari spesial untukmu, pasangan, dan keluarga

Perasaan hati waktu itu nano nano banget. Dari yang awalnya kita siapin frame “in loving memory” yang hanya untuk nenek aja, eh sekarang kok kakek menyusul juga.
Ketika kondisi kakek memburuk dan kita terpaksa harus hapus nama kakek dari guest list, rasanya perasaan jadi kacau balau dan bisa sering nangis di hari-hari selanjutnya.
–
Di malam sebelum wedding, aku & mama dapat kabar berpulangnya kakek pas kita baruuu aja sampai hotel. Kita baru aja balik dari RS dan mau ke tempat dinner.
Keluargaku langsung siap-siap untuk balik ke rumah sakit, sementara aku terpaksa tinggal di hotel. Aku nangis sejadi-jadinya sambil paksain diri untuk coba tidur. Eh, tiba-tiba udah harus ready make up jam 2 subuh wkwk. Gak tidur deh.
Mamaku juga sama aja, kurang tidur. Mereka baru balik hotel lagi di tengah malem dan mama harus ready make up jam setengah 3 subuh.
Sangat gak mudah sih kalau diingat-ingat lagi.. dan kadang aku bingung ternyata kita bisa kuat juga ya menjalani dan menghargai semua momen di hari H dengan sepenuh hati.
Ada kerabat-kerabat yang membantu nguatin aku dari saat kakek masuk ICU, hingga di pagi hari vendor-vendor pun juga membantu menyemangati.
Aku mau sharing beberapa kalimat yang sangat menyentuh dan menguatkan aku, yang mungkin bisa menjadi kekuatan juga buat siapapun yang melalui cerita serupa.
Garis besarnya adalah, acara wedding besok adalah acara yang sudah disiapkan oleh kita & keluarga dari waktu yang cukup lama, sehingga kita harus menghargai itu juga.
Kita juga yakini bahwa kakek dan nenek sudah berbahagia di surga dan turut happy dengan jalannya acara nanti.
“Kamu tetap fokus ya buat acara besok yg 1 x seumur hidup kamu.
Engkong memang lg kritis, tp perlu kita sadari klu setiap org pasti kembali klu sdh tiba saatnya apalagi spt engkong yg sdh cukup banyak usianya.
Sedih boleh tp jangan berlarut ya, tetap konsentrasi utk acara besok spy papi dan mami juga bahagia lihat kamu happy.
Ok ya, tante cuma bisa bantu dgn kata2 ini dan berdoa yg terbaik utk engkong🙏🏻”
“….. tabah ya🤗🤗🤗😘 besok acara tetap harus jalan. Sedih hari ini, tp besok harus tetap bahagia. Acara bahagia kamu tetap berlangsung sesuai rencana.
Semua rencana Tuhan baik untuk Engkong, Engkong sudah bahagia di surga bersama Bapa. Jd kamu juga hrs bahagia dengan acara kamu🙏🙏🙏
….semua diluar kuasa kita. Semua org ada waktunya muda maupun tua. Engkong sudah tua dan ada sakit, jd ya resiko dipanggil Bapa lebih banyak. Memang kalau dipikir kenapa sekarang….semua rencana indah Tuhan buat Engkong. Engkong sekarang sdh ngk sakit lagi🙏🙏🙏
Jd kamu sedih, tapi juga bahagia buat Engkong yg sudah lepas dari penderitaan di dunia🙏………..”
“This may be a sad thing buat kamu n keluarga, but it may be what’s best buat engkong. Now he’ll be able to watch you on your big day from above.
So I hope you don’t dwell on it too much, just enough and let’s focus on yourself and your once in a lifetime event tomorrow. You’ve worked very hard on it for the past year! Aku yakin engkong (n emak) will be happy to see you happyyyy tooo“.
“Ren, aku paham perasaan kamu karena dulu aku pernah melalui kejadian yang mirip. Tapi today is your special day yang sudah kamu prepare dari sekian lama juga, jadi kamu harus hargai itu juga.
Hargai apa yang sudah kamu siapkan, pasangan kamu siapkan, dan keluarga kalian siapkan selama ini. Masih ada hari esok yang kamu bisa pakai untuk yang lainnya.”
– kira-kira gini kata-kata Ci Jessie Gunawan di pagi hari, designer wedding dress aku yang sangat sweet dan understanding. Sambil kasih kata-kata mutiara, sambil ngejahit 😆
“Temenku yang keturunan salah satu daerah bilang kalau masih dalam 100 hari, gpp lanjut. Tapi kalau lebih dari 100 hari, harus nunggu 3 tahun.”
“Ya makanya the show must go on.”
— Inti yang aku tangkep, kepercayaan dan tradisi bisa macem-macem. Kita ikuti apa yang bisa kita ikuti.
Aku & pasangan memang gak ikutin tradisi apa-apa. Kita percayakan aja bahwa wedding kita di keesokan harinya memang belum lewat 100 hari berpulangnya kakek dan nenek, jadi gapapa jika acara besok tetap lanjut.
Kita yakini juga bahwa selama hidup, kakek dan nenek tidak pernah mau menyusahkan orang lain, jadi kakek dan nenek juga belum tentu akan hepi jika acara malah jadi diundur.
Tapi again, kepercayaan ini pasti akan beda-beda tergantung kepercayaan masing-masing orang.
IV. Selalu ada jalan

Mungkin bisa aja ini dicap ✨cocokologi✨, tapi ada hal menarik yang aku amati. Waktu kepergian kakek dan nenek, beserta rangkaian peringatan 7 hari dan 40 hari, semuanya gak ada lho yang clash dengan hari wedding/rangkaian acara persiapan wedding kami.
Kadang heran dan tentu sangat bersyukur juga karena aku & pasangan tetap diberkati dengan satu hari khusus untuk merayakan wedding anniversary kami nantinya.
–
Ketika gladi resik gereja, kita sudah ada rencana untuk meletakkan foto mendiang nenek di kursi paling depan, beserta kain bahan untuk gaun yang tadinya akan dipakai nenek. Dalam case kakek, kita tentu gak ada waktu dan rencana untuk nyiapin set-up serupa.
Beruntungnya, WO yang juga sepupuku (Ci Grace— yang semaleman gak tidur juga karena sibuk bantu-bantu di RS & RD, dan langsung terjun ngurusin acara wedding kita— bless her 🥹) bisa ngaturin foto kakek. Jadi pas di gereja, tau-tau udah ada aja foto kakek di kursi depan.
Sangat sangat bersyukur diberikan kesempatan untuk mengenang kakek dan nenek dengan proper dan cantik di gereja, dan juga di resepsi pada malam harinya.

Vendor-vendor lainnya sudah dibriefing juga oleh Ci Grace dan teamnya. Mereka benar-benar bisa membuat suasana jadi lebih ringan dan nyaman. Terlebih team fotografer (Reynard Karman, Michael Haryandi) dan videografer (Rangga Kioe) yang nempelin kita terus seharian dan tetep bikin suasana cerah walaupun si bride-nya dikit-dikit nangis 🙈
Jujur aku tertolong banget sama kehadiran mereka, lebih lengkapnya tentang pengalaman bersama para vendor ini, bisa dilihat pada postinganku di forum Bridepalette yaa.
V. Be present, appreciate the present moment

Di balik kedukaan selalu ada terang dan harapan. Rasa sedih akibat kehilangan pasti ada dan itu memang wajar. Namun, perlu kita sadari juga bahwa kita masih menjalani kehidupan di dunia ini dan masih dikelilingi dengan orang-orang yang menyayangi kita. Jadi, sedih boleh, tapi gak perlu berlarut-larut.
Kita sedih ketika ditinggalkan oleh orang yang kita sayangi secara mendadak. Walaupun udah sakit lama, tapi pasti akan tetap terasa mendadak, karena gak ada yang bisa tau sampai kapan waktu kita di dunia ini.
Maka perlu kita sadari juga bahwa saat ini kita masih diberikan waktu dan kesempatan, yang gak selamanya akan selalu ada.
Masih diberikan waktu untuk merasakan momen-momen yang ada pada saat ini. Kalau aku kemarin, misalnya, masih bisa merasakan haru ketika melihat saudara-saudara yang memberikan semangat. Merasakan rasa hangat dan deg-degan ketika mengucapkan janji perkawinan. Merasakan sedih ketika sungkeman dan berlutut mendoakan kakek dan nenek.
Masih diberikan kesempatan bersama orang-orang yang kita sayangi, yang bisa kita lihat, yang bisa kita cium baunya, yang bisa kita sentuh berkali-kali— maka marilah kita hargai & syukuri apa yang ada di depan kita saat ini.
Karena siapa yang bisa memprediksi waktu kita di dunia ini sampai kapan? Sampai kapan kita bisa terus ngobrol sama orang? Sampai kapan kita bisa terus ketemu sama seseorang itu lagi?
Kita bisa sedih terus menerus karena kepergian seseorang hingga kita tidak menghargai kehadiran orang-orang & momen-momen yang ada di depan mata kita. Atau, kita juga bisa memilih untuk berdamai & menghargai apa yang ada di depan mata kita saat ini— mumpung waktunya masih ada.
Ketika kita mau membuka hati dan pikiran kita untuk merasakan dan menyadari dengan sepenuh hati; maka kita bisa dengan sepenuhnya mengapresiasi apa yang ada di depan kita. Baik itu waktu, kesadaran kita, emosi kita, kehadiran orang lain, apapun itu. Terima dan rasakan aja dengan sepenuh hati, karena itu momen yang mungkin gak akan terulang lagi.
Kita bisa terus merenung dan bersedih, tapi kita juga punya kebebasan memilih untuk happy, menghargai, merasakan, dan hadir sepenuhnya pada momen yang ada pada saat ini & sekarang— right here, right now. The present moment 🙂💝
May we have the courage to appreciate every moment, to be fully present in each moment. Untuk sepenuhnya hadir pada saat ini dan sekarang.
–
Begitulah kira-kira caraku menghadapi kedukaan menuju hari pernikahan. Semoga ada hal baik yang bisa diambil dari sepenggal pengalamanku ini ya. Aku juga suka nulis tentang being present di blogku, misocarborena.
Thank you for reading until the very end 💗
![[True Story] 5 Caraku Menjalani Kedukaan ketika Menuju Hari Bahagia](https://bridepalette.id/wp-content/uploads/2025/02/wedding4-1.jpg)
Leave a Reply